Dalam islam pasti kita mengenal dengan sebutan Akidah, sebagaimana juga kita mengerti terhadap syariat islam. Keduanya saling berkaitan tidak bisa dipisahkan satu dengan yang lainnya. Seseorang yang sudah ikrar masuk islam maka menjadi otomatis baginya mempunyai akidah dan menjalankan syariat yang telah dibawa oleh sang utusan "Muhammad Saw".
Akidah merupakan keyakinan yang paling urgen dalam islam dan tolak ukur bagi keimanan seseorang. Akidah yang kuat dapat menyelamatkan seseorang hidup dalam masa yang penuh dengan fitnah -baik fitnah dunia ataupun akhirat- dari segala amal bid'ah, Sebagaimana yang terjadi di zaman sekarang.
"Rosulallah Saw bersabda: Umatku ini akan terpecah menjadi 73 golongan, semuanya berada dalam neraka kecuali satu golongan"
Para sahabat bertanya : "Siapa golongan yang satu itu wahai Rasulallah?"
Beliau menjawab : "Mereka yang berpegang dengan apa yang aku berada di atasnya pada hari ini dan juga para sahabatku".
Semua golongan yang masuk neraka tetap beragama islam dan tidak keluar dari islam, sebagaimana yang disabdakan oleh Rosul Saw. Dengan kata Ummatku, hanya saja mereka masuk neraka karena memang keluar dari akidah ahlussunnah waljama'ah.
Di akhir zaman sekarang ini, banyak kita temui golongan islam yang terpecah menjadi banyak, kesemuanya sama mengakui golongan ahlussunnah waljama'ah. Tapi yang benar-benar diakui sebagai golongan ahlussunnah waljama'ah hanya satu yaitu segala sikap dan tingkah laku yang sesuai dengan apa yang dibawa oleh Rosulallah Saw. Dan para sahabatnya, "Ma Ana Alaihi Wa Ashabi".
Kita tidak boleh menjustis golongan kita yang paling benar sehingan kita meremehkan golongan lain, lebih-lebih meng-kafirkannya. Golongan-golongan yang ada mulai dulu sampai sekarang pasti menganggap golongan sendiri yang paling benar. Banyak golongan kita temui di antaranya: Muktazilah, Khawarij, Murji'ah, Musabbihah, Syiah, Wahabi, Jahmiyah, Qodariyah, Ahmadiyah, marxisme, Ateisme, Sosialisme, Sekularisme, Jil, Membenarkan semua agama dan istilah-istilah lain. Yang semuanya itu (menurut ulama') dikatakan sebagai ahli Bid'ah.
Rosulallah Saw. Bersabda, yang yang diriwayatkan dalam kitab sunan Ibnu Majah:
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يَقْبَلُ اللَّهُ لِصَاحِبِ بِدْعَةٍ صَوْمًا وَلَا صَلَاةً وَلَا صَدَقَةً وَلَا حَجًّا وَلَا عُمْرَةً وَلَا جِهَادًا وَلَا صَرْفًا وَلَا عَدْلًا يَخْرُجُ مِنْ الْإِسْلَامِ كَمَا تَخْرُجُ الشَّعَرَةُ مِنْ الْعَجِينِ
"Allah tidak menerima amal ibadah Puasa, Salat, Sedekah, Haji, Umroh, Jihad, Tasarruf, dan Keadilan –nya Ahli Bid'ah, ia keluar dari islam sebagaimana keluarnya sebiji rambut dari adonan".
Lalu siapa saja golongan 72 yang sudah di isarahkan oleh nabi masuk neraka?
Disini penulis berpendapat bahwa golongan yang masuk neraka bukan tertentu dari angka 72 golongan, sehingga golongan yang masuk neraka benar-benar berjumlah 72, tidak kurang atau lebih dari angka tersebut. Tapi menurut penulis, bahwa islam memang benar-benar terpecah yang melebihi dari agama yahudi dan nasroni. So, tujuan utama hadis tersebut bukan terletak dari kata angka 72 tapi lebih terfokus pada perpecahan ummat, yang mana ummat islam terpecah lebih banyak di banding dari kedua agama yang lain. Sebagaimana Al-Qur'an juga menyebutkan lafad sab'iina (menj.Angka) dalam Surta Attaubah ayat 80.
اسْتَغْفِرْ لَهُمْ أَوْ لَا تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ إِنْ تَسْتَغْفِرْ لَهُمْ سَبْعِينَ مَرَّةً فَلَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَهُمْ ذَلِكَ بِأَنَّهُمْ كَفَرُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الْفَاسِقِي
"Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). kendatipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampunan kepada mereka. yang demikian itu adalah Karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik."
Allah tidak memberi ampunan kepada orang kafir meskipun Rosulallah Saw. Beristighfar sebanyak 70 kali atau lebih. Bukan pada angka 70 nya, namun memang Allah tidak akan memberi ampunan kepada orang kafir, Sebagaimana ayat diatas.
Permasalahan akidah harus benar-benar dijaga dan dilindungi, karena darinya yang akan menjadi pembatas antara sesama muslim. Dan akidah merupakan pokok agama (usuluddin) yang harus kita pegang teguh dengan sekuat-kuatnya. Bedahalnya kalau permasalahan itu hanya sebatas furu'iyyah atau masalah hukum-hukum cabang yang tidak sampai pada tataran usul (akidah).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar